Home » » Ikan Paus yang Kesepian

Ikan Paus yang Kesepian


Seekor Paus—yang telah hidup lebih lama dari pada penghuni laut saat ini—sedang bernyanyi. Menyanyikan lagu paling sendu yang pernah terdengar oleh para penghuni laut. Semenjak kematian pasangannya beberapa tahun silam tak ada yang kebahagiaan terpancar dari raut wajahnya. Dia hanya mengitari samudra lepas diiringi kesepiannya.

Penduduk laut—kura-kura, hiu, gurita—jadi seolah ikut merasakan apa yang tengah dirasakan ikan Paus itu. Tapi mereka tidak tahu harus melakukan apa demi menolong si Paus yang telah hidup lebih lama dari pada penghuni laut. Saat itulah, ikan Paus menghampiri teman-temannya meminta pertolongan.

“Hai, Gurita,” kata Paus kepada Gurita, “bunuhlah aku.”

Gurita yang dipanggil pun menjawab, “mana mungkin?! Aku takkan sanggup membunuhmu. Lihat saja, testikelku yang paling besar hanya sanggup mencengkeram salah satu dari siripmu saja.”

Mendapat jawaban tersebut, ikan Paus pun pergi, ia menghadap ikan Hiu yang terkenal sebagai ikan buas yang haus darah. “Hiu, tolonglah aku,” kata Paus kepada Hiu, “bunuhlah aku.”

Hiu pun menjawab,”hahaha…kau becanda bukan? Lihatlah tubuhku ini jauh lebih kecil dibandingkan tubuhmu yang besar. Gigi-gigiku ini tak mungkin bisa menembus kulitmu yang tebal.”

“Cobalah…” desak Paus dengan mimik memohon…

Akhirnya, Hiu mencobanya tetapi seperti yang dikatakannya, hal tersebut sia-sia. “Sia-sia saja.” Kata Hiu menyerah.

Ikan Paus itu pun, diiringi nyanyian yang sama. Nyanyian paling sendu di seluruh jagad samudra. Ia bosan telah hidup terlalu lama, sedangkan teman-teman sezamannya telah mati lebih dulu. Lalu Paus itu pun mendatangi kura-kura.

“Wahai, Kura-kura, bisakah kau membunuhku?”

“Hahaha…” Kura-kura tertawa miris, “kau bercanda, aku takkan bisa membunuhmu.”

“Kau terkenal sangat pandai. Carilah akal.” Kura-kura memang terkenal pandai mengatasi masalah.

Sesaat kemudian keduanya terdiam. “Kau sungguh ingin mati?” Tanya Kura-kura kemudian. Paus pun mengangguk, “tunggulah besok, saat badai bulan ini datang. Ketika itu, naiklah ke permukaan laut dan janganlah menggerakkan siripmu. Biarkan gelombang menyapu tubuhmu.”

Besoknya, tepat ketika badai mulai bergemuruh di samudra lepas, ikan paus muncul ke permukaan. Si Paus mengikuti saran kura-kura tersebut. Badai tersebut adalah badai terdashyat yang pernah dilihatnya, badai yang menjuntai-juntai. Dimana kilat saling sambar-menyambar dan air laut bergelombang sangat tinggi. Bagaikan membentuk Poseidon, si dewa laut. Mengerikan. Setiap sapuannya menimbulkan bunyi yang menyiutkan nyali makhluk-makhluk darat. Tetapi Paus itu tidak peduli hal tersebut, ia hanya memikirkan tentang kematian yang bakalan dihadapinya.

Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu datang. Sebuah ombak tertinggi datang mengarah padanya. Dan kemudian, menyapu Paus yang telah mematikan seluruh gerakannya. Ikan Paus itupun terhuyung-huyung, bergulung tersapu ombak tadi. Meluncur cepat menuju pantai. Terdampar.

Ketika ikan Paus itu tersadar, sekeliling tubuhnya telah banyak orang-orang darat mengelilingi tubuh besarnya. Mereka terheran-heran melihat makhluk besar ini.

“Wah, besar sekali,” tukas salah seorang dari mereka.

“Kalau dipotong-potong akan habis dalam setahun…” seorang diantaranya menimpali.
“Mungkin bisa lebih,” timpal seorangnya lagi, “dan kurasa semua orang-orang darat di negeri ini akan kebagian semua.” Ikan Paus yang sudah tak berdaya lagi di daratan hanya bisa diam, sambil menatap orang-orang darat berseliweran di sekitar tubuhnya. Ia melihat sejauh matanya dapat melihat, diiringi tatapan aneh orang-orag darat itu.

“Hihihi…bloonnya,” seorang anak kecil berkomentar. Ikan Paus itu pasrah tubuhnya dipotong-potong dan menjadi santapan bagi orang-orang darat. Akhirnya ia tersenyum bisa mati juga dan mengucapkan terimakasih pada teman-teman lautnya yang sudah menemaninya yang disampaikannya lewat udara dan air. Ikan Paus itu kini meneteskan airmata bahagia. Kini ia bisa mati menyusul teman-teman sezamannya. Dan hembusan nafas itu berhenti saat kapak orang-orang darat menyentuh kulit Paus dari arah berlainan secara bersamaan.

Di laut, ketiga temannya; Gurita, Hiu dan Kura-kura yang muncul ke permukaan ikut berbahagia, meskipun airmata tak mampu mereka bendung. Bagaimanapun juga ikan Paus tua itu adalah bagian dari mereka. Selamanya.

0 komentar:

Post a Comment