Cerita Dongeng – Loreng Kuning dan Biru Langit

Cerita Dongeng – Mama pulang ke rumah, membawa dua ekor ikan guppy. Kunamai saja mereka: si Loreng Kuning dan si Biru Langit. Ikan-ikan ini terlihat cantik dan lincah betul. Mereka berenang riang gembira ke sana ke mari, seakan-akan mereka tak mengenal lelah.

Aku menjumput makanan ikan butiran, lalu menaburkannya ke dalam akuarium buatan Papa. “Meooonggg...” terdengar suara Empus, kucing persiaku. Aku melihat Empus senang dengan ikan-ikan itu.

“Meong...” Empus mengong lagi. Dia seolah mau bilang biar aku yang mengasih makanan itu pada Loreng Kuning dan Biru Langit. Aku menggeleng pada Empus. Aku takut Empus akan memakan dua ikan guppy-ku.

Aku pun menyuruhnya pergi, tapi Empus bersikeras. Aku menghela napas dan mengalah. Kugendong Empus mendekati akuarium. Empus melihat dua ikan guppy-ku dengan tatapan melotot.

Lalu, kujauhkan Empus dari ikan-ikanku. Empus terus mengeong. Aku tahu Empus takkan menyerah menangkap ikan-ikan itu.

***

Cerita Dongeng – Loreng Kuning dan Biru Langit

Karena itu, aku dan Mama menggambar ikan di kertas dan mengikatkan ekor ikan itu dengan benang. Ujung benang lainnya kuikatkan pada pensil.

Setelah jadi, aku menggoda Empus dengan mainan ikan baruku. Empus pun selalu berusaha menangkap gambar ikan itu. Pada akhirnya Empus kelelahan dan tidak mau main lagi. Yah, aku pun main bersama teman-teman di luar rumah.

***

Sekembalinya ke rumah, aku kaget melihat akuariumku kosong. Kuning Loreng dan Biru Langit tak ada lagi di dalamnya, sementara Empus duduk di dekat akuarium. Meledaklah tangisanku.

“Mamaaa...” aku berteriak, memanggil-manggil Mama, “Empus makan ikan-ikan guppy-ku nih!”

“Nggak kok!” jawab Mama buru-buru keluar dari dapur. Di tangan terlihat wadah besar, “Tadi Mama mencuci akuarium. Ikanmu Mama pindah ke wadah ini. Nih lihat!”

Aku lega dan tersenyum. Kulihat Empus tampak cemberut. Dia seolah-olah berkata, “Siapa mau makan ikan-ikanmu?” Sudah pasti kan? Empus pasti melakukannya kalau bisa. Siapa tidak tahu kucing suka ikan?

----------

Dongeng ini karangan ceritanakecil.blogspot.com, yang masuk dalam kategori: cerita anak, cerita dongeng.

Cerpen Horor – Anak Baru di Sekolah

Cerpen Horor – Triiinggg... Triiinggg... Triiinggg... terdengar suara bel bertalu-talu, tanda kelas akan segera dimulai.

Yono dan teman-teman lainya berbaris rapi di depan kelas. Mereka masuk ke dalam kelas berurutan satu persatu sesuai nomor urut absen.

Di dalam kelas, Yono melihat Bu Guru Gendis, wali kelasnya datang bersama seorang anak perempuan.

“Perkenalkan diri kamu, Nak. Ayo nggak usah malu-malu,” pinta Bu Guru Gendis pada anak perempuan itu.

Cerpen Horor – Anak Baru di Sekolah

“Halo, namaku Teti Marleni. Aku pindahan dari SMPN 3. Itu aja kalau ada yang ingin ditanyakan nanti kita bisa berkenalan. Sekian dan terima kasih,” ucap Teti, memperkenalkan diri.

Kemudian dia duduk di sebelahku. Karena hanya itu satu-satunya bangku kosong tersisa di kelasku. Yono kemudian coba memperkenalkan dirinya pada Teti. Tapi, begitulah hari-hari Yono selanjutnya. Tak ada tegur sapa.

***

Salimi menelpon Yono, mengundangnya datang ke sekolah. Karena besok ada pertandingan futsal.

Yono pun datang ke sekolahan Salimi di SMPN 3. Dia pun bertemu dengan Salimi dan bercerita ngalor-ngidul sambil menonton futsal.

Yono pun bertanya pada Salimi tentang murid bernama Teti Marleni yang pindah ke sekolahnya beberapa hari lalu. Salimi terkejut. Karena seingatnya, Teti Marleni sudah meninggal setahun lalu dalam kecelakaan mobil.

Mendengar pernyataan Salimi, Yono terdiam. Dia bertanya-tanya jika Teti Marleni sudah meninggal, terus siapa anak baru yang ada di sekolahnya?

Cerpen horor anak berjudul “Anak Baru di Sekolah” ini ditulis ceritanakecil.blogspot.com.

Cerita Pendek Anak - Sepeda Ari

Cerita Pendek Anak – Sudah beberapa hari terakhir, Yono tidak melihat karibnya, Ari. Sedih, Yono bergumam pada dirinya sendiri, “Apa Ari masih marah ya padaku?”

Beberapa hari lalu, Yono sempat meminjam sepeda Ari. Waktu itu, Ari berpesan supaya Yono tidak main di ujung jalan kampung, karena jalanan di sana banyak yang berlubang. Lagipula, Ari juga tahu Yono belum pandai betul mengendarai sepeda.

Saking asiknya kali ya, Yono lupa pesan Ari itu. Dia pergi ke ujung jalan kampung. Tak pelak, dia kikuk menghindari lubang besar di jalanan. Akhirnya, brukkk... Yono meringis kesakitan.

Yono mengelus dengkulnya yang mulai mengeluarkan darah. Rasa sakit itu berubah menjadi rasa panik waktu Yono melihat ban sepeda Ari bengkok. Benak Yono dipenuhi berbagai macam pikiran. Mulai dari takut dia dimarahi Ari, Ari dimarahi orang tuanya, dia dimarahi orang tua sendiri, cara memperbaiki sepeda, dan sebagainya.

Pun begitu, Yono harus mengembalikan sepeda tersebut pada Ari. Waktu dikembalikan sih Ari tidak berkata apa-apa dan hanya membawa pulang sepedanya. Yono mengartikan Ari marah padanya.

***

Cerita Pendek Anak - Sepeda Ari

Karena itu, sorenya, Yono mengamati rumah Ari. Dia berharap bisa melihat sahabatnya itu. Sayangnya rumah Ari tampak sepi. Tak terlihat siapapun di depan rumah. Yono menghela napas. Pertemanan mereka berakhir sudah.

Yono pun pergi ke lapangan, tempat biasa anak-anak bermain. Di sana dia hanya terpekur sendirian, berpikir bisa mengganti sepeda Ari yang rusak. Tiba-tiba, Yono mendengar namanya dipanggil. Waktu menoleh, dia melihat seorang anak kecil berkaos putih dengan motif garis merah tebal memedal sepeda.

“Hai, Yon,” tukas Ari yang kemudian turun dari sepeda menghampiri Yono. Hal itu membuat jantung Yono menari-nari.

Dia berkata cepat, “Ri, sori ya soal sepedamu. Aku nggak akan minjam sepedamu lagi dan akan menggantinya kalau duitnya sudah cukup kukumpulkan.”

Ari tidak ngeh maksud ucapan Yono. “Kamu nggak mau lagi pinjam sepedaku?” tanya Ari. Yono buru-buru mengangguk. Ari menanyakan alasannya. Yono terdiam, merasa tidak enak hati. Ari pun mengajak Yono mendekati sepedanya dan menyuruhnya naik. Yono melongo.

“Naik saja,” perintah Ari. Yono menggeleng. “Sudahlah, Yon, nggak apa-apa.” Yono melihat ban sepeda Ari sudah tidak bengkok lagi. Dia berpikir sepeda itu sudah diperbaiki.

“A... aa... apa kamu dimarahi karena sepedanya rusak?” tanya Yono suaranya terbata-bata.

Ari tersenyum dan berkata, “Tenanglah, Yon, Bapak nggak marah. Memang sempat dia khawatir, tapi pas aku cerita kalau yang terjatuh itu kamu, Bapak malah ngebeliin helm dan perlengkapan keamanan bersepeda untuk aku dan kamu.”

“Maafin aku ya Ri!” pinta Yono.

“Udah ah, minta maaf mulu, kayak Mpok Hindun*,” sahut Ari seraya mengeluarkan dua helm dari dalam plastik. Satu untuknya dan satu lagi untuk Yono. “Yuk kita main sepeda lagi,” ajaknya. Yono pun tersenyum. Keceriaannya kini kembali.

Cerita pendek anak ditulis oleh ceritanakecil.blogspot.com. Ilustasi diambil dari Graphicleftovers.

Cerpen Anak - Pencuri Uang Mommy

Cerpen Anak – “Amang nggak boong, Mom! Amang nggak ngambil duit itu. Salah Mommy sendiri meletakkan duit di atas kulkas yang terbuka,” sahut Amang waktu ditanyai Mommy soal duitnya yang sering hilang belakangan ini.

“Habis siapa lagi kalau bukan kamu?” sahut Mommy, “Di rumah ini hanya ada Mommy, Daddy, Mbok Rani, sama kamu.”

“Tanyakan saja pada mereka berdua, siapa tahu mereka tahu.”

Mommy tidak menggubris ucapan Amang, sibuk menghitung uangnya. Meskipun uang itu tidak besar jumlahnya, karena hanya receh, tetap saja kalau hilang setiap hari hasilnya lumayan banyak juga bila dikalikan tiga puluh hari. “Sepertinya, ada pencuri masuk ke rumah ini,” sindir Mommy pada Amang.

Amang yang tidak ngeh ucapan Mommy malah bertanya, “Kalau emang ada pencuri masuk, kenapa yang diambil hanya uang receh?”

Mommy mengimbuhi, “Pencurinya bukan orang luar, tapi orang dalam. Mommy yakin nggak lama lagi itu pencuri bakalan tertangkap.” Setelah mengucapkan hal tersebut, Mommy pergi meninggalkan Amang yang sudah ngeh. Amang bingung harus bagaimana menjelaskannya pada Mommy. Dia terpikirkan untuk menangkap pencuri itu, hanya saja bagaimana caranya?

***

Besoknya, Amang buru-buru ke dapur ketika mendengar suara Mommy teriak-teriak. “Ini nggak bisa dibiarkan. Mommy paling nggak suka ya kalau ada yang nggak jujur di rumah ini, terlebih soal mengambil uang tanpa izin!”

Daddy coba menasihati Mommy kalau hal tersebut tidak perlu diributkan, sebab duit yang hilang juga tidak seberapa. Mommy menegaskan, “Yang jadi soal bukan jumlahnya! Ini soal kejujuran Dad! Mungkin awalnya hanya dua ribu atau tiga ribu. Tapi kalau dibiarkan dia akan mengambil jutaan.”

Daddy menghela napas, tak bisa berbuat apa-apa. Begitulah Mommy. Tak seorang pun mampu mematahkan argumennya kalau sedang emosi tinggi.

***

Cerpen Anak - Pencuri Uang Mommy

Malamnya, Amang belum bisa tidur. Dia masih berpikir siapa orang yang telah mengambil duitnya Mommy? Andai benar pelakunya orang dalam, hanya ada dua kemungkinan: Daddy atau Mbok Rani.

Di tengah-tengah kebingungan Amang menebak-nebak siapa pencurinya, tiba-tiba dari ruang tengah terdengar suara mencurigakan. Baru ingin mencari tahu, terdengar suara gelas jatuh. Pyarrr!!!

Amang keluar kamar dan menyalakan lampu. Seekor tikus terlihat meloncat dari atas kulkas menuju dapur. Selembar duit pecahan dua ribuan teronggok di lantai. Amang tersenyum, menyadari bahwa tikus itulah yang sudah mencuri uang recehan Mommy. Pas mengambilnya, Mommy membuka pintu kamar. Dia menuduh Amang-lah pelakunya, membuktikan kecurigaannya sebelumnya.

Amang berniat menjelaskan, tapi Mommy buru-buru kamar, tidak mau mendengar penjelasan apapun. Amang bingung dan masuk kamar, memikirkan cara menjelaskan duduk perkaranya.

Amang berpikir untuk menangkap tikus itu untuk memaksanya berkata benar. Tentu saja, itu mustahil. Dia akhirnya memutuskan untuk mencari lobang tikus di dapur. Siapa tahu duit rampasan itu ada di dalamnya.

***

Di dapur, Amang memeriksa daerah-daerah yang jarang disentuh manusia. Mbok Rani heran apa yang dilakukan Amang di dapur. Amang diam dan terus membongkar-bongkar beberapa titik. Waktu Amang melongok ke sudut lemari, seekor tikus tiba-tiba meloncat.

Mbok Rani menjerit ketakutan. Amang mengejar-ngejarnya, begitu berhasil menangkapnya, segera dibanting tikus itu ke lantai. Matilah seketika.

Mommy yang mendengar suara ribut-ribut di dapur langsung datang. Dia bertanya, “Ada apa sih ribut-ribut di dapur?”

Amang memperlihatkan tikus mati di lantai yang baru mau dibersihkannya. “Nih, tikus pencuri uang Mommy! Aku berhasil menangkapnya. Kuserahin sama Mommy nih.” Mommy sontak menjerit, bersembunyi di balik punggung Daddy. Dia minta Amang membuangnya.

“Sebelumnya, Mommy lihat dulu nih pojokan lemari, itu duit Mommy ada di sana,” tunjuk Amang. Di pojok lemari yang ditunjukkan Amang memang banyak terdapat duit receh kumal dan sobek-sobek. Mommy melongok sambil menutup hidung.

Kini terjawab siapa pencuri uang Mommy. Amang tersenyum puas bisa memecahkan masalahnya, sehingga namanya menjadi bersih kembali. Mommy minta maaf telah salah menuduh Amang sebelumnya.

Cerpen Anak ini ditulis oleh ceritanakecil.blogspot.com. Baca juga kumpulan cerpen anak lainnya di label Cerpen.

Putri Permen

Cerpen Anak Sekolah – Nama sebenarnya Putri. Di sekolah dia dipanggil dengan julukan Putri Permen. Julukan itu Putri dapat, karena dia suka bagi-bagi permen untuk teman-teman sekelasnya setiap hari.

“Ma, mana permen-permennya?” tanya Putri, setelah tidak melihat kantong permen di dekat tas sekolah yang biasa dibawanya.

“Hari ini nggak ada permen dulu. Stok habis. Nanti siang Mama beli lagi di minimarket,” sahut Mama.

“Ah, Mama gimana sih? Kalau aku nggak bawa permen ke sekolah, temen-temen nanti menjauh. Putri nggak punya temen lagi deh,” keluh Putri. Matanya berkaca-kaca.

“Masak temenmu nggak mau temenan sama kamu gara-gara permen sih?” tanya Mama. Putri tidak menjawab. Air mata mulai bergulir dari ujung matanya. Dia pun berangkat ke sekolah tanpa pamit.

***

Cerpen anak sekolah - Ilustrasi Putri Permen

Ketika sampai di sekolah, teman-temannya langsung mengurungi Putri, menanyakan permen untuk mereka. Putri mengaku tidak membawa permen hari ini. “Tapi aku janji akan membawanya besok,” Putri berjanji agar teman-temannya tidak kecewa.

“Ah, nggak enak kalau harus nunggu besok!” komen Yono.

Teti mengimbuhi kalau sebaiknya julukan Putri Permen dicabut saja. Putri diam dan duduk di bangkunya. Dalam diam, dia menyalahkan Mamanya yang tak menyediakan permen hari ini.

***

Sepulang sekolah, kebetean Putri belum hilang. Dia bahkan mogok makan siang ketika Mama menyuruhnya makan. Mama akhirnya menghampiri Putri di kamarnya.

“Nggak mau, Putri sebel sama Mama!” teriak Putri, “Gara-gara nggak bawa permen, temen-temen menjauhiku! Aku nggak lagi menyandang sebagai Putri Permen!”

“Kalau besok nggak ada permen, aku nggak mau sekolah!” ancam Putri. Mama tidak berkata-kata lagi. Dia diam memikirkan sesuatu.

***

Besok Mama tetap belum membelikan permen untuk Putri. Itu membuat Putri yang sudah siap sekolah kembali meradang. Dia lagi-lagi berangkat sekolah tanpa pamit. Mama memandangi Putri dari kejauhan. Dia memang sengaja tidak membawakan Putri permen, supaya Putri mengerti untuk memiliki teman tidak harus selalu memberikan sesuatu.

***

Sesampainya di sekolah, Putri dikerubungi teman-temannya yang menagih janji permen dari Putri Permen. Putri tidak menjawab dan hanya pergi ke mejanya. Itu membuat teman-temannya saling pandang. Mereka pun mengejar Putri ke mejanya.

“Kamu nggak bawa permen lagi ya?” tanya Intan, salah satu temannya yang kerap diberikan permen.

“Berarti kamu bukan Putri Permen lagi!” seru Dede. Intan, Yono dan Teti mengamini ucapan  Dede.

Putri diam, menahan rasa kesalnya. Dia coba memfokuskan pikirannya pada sobekan kertas buku yang berisi puisi karyanya.

Hari itu, Bu Ana guru Bahasa Indonesia akan menilai kemampuan para siswa dalam membacakan puisi. Siswa yang terbaik akan diikutsertakan dalam lomba membaca puisi antar-sekolah se-kecamatan.

Satu per satu para siswa tampil di depan kelas. Bu Ana menilai semuanya. Ketika Putri membacakan puisi karyanya sendiri, semua anak terdiam.

Setelah selesai, Putri mendapatkan banyak tepuk tangan dari teman-temannya. Bahkan, Bu Ana pun memilih Putri sebagai pembaca puisi terbaik. Dia kerubungi teman-teman sekelasnya. Mereka memuji cara Putri membacakan puisi.

Pelan-pelan Putri makin dikenal di sekolahnya. Temannya pun makin banyak. Mereka tidak lagi ingin berteman dengan Putri karena Putri suka membagi-bagikan permen. Mereka suka Putri pandai menulis dan membacakan puisi. Dia kini dijuluki Putri Puisi.

Sekarang Putri tahu kenapa Mamanya tak lagi membelikannya permen untuk dibagi-bagikan kepada teman-temannya. Dia sadar punya teman tidak harus dengan memberikan sesuatu.

Cerpen anak sekolah berjudul “Putri Permen” ditulis oleh Nani Asmarani dan pernah diterbitkan di Suara Merdeka 27 Januari 2013. Ceritanakecil menceritakannya kembali untuk teman-teman semua. Gambar diambil dari clker.

Cerpen Anak: Inci dan Ajah

Cerpen Anak – Ada seekor kelinci. Namanya Inci. Dia sebatang kara tanpa orang tua dan saudara. Inci pengen betul punya teman supaya bisa berbagi suka-duka.
Inci kemudian bertemu dengan seekor ular sawah. Namanya Sahwa. Mereka berkenalan.

"Hei, siapa kamu? Aku Sahwa, seekor ular sawah," tanya Sahwa.

Inci menjawab: "Namaku Inci. Aku seekor kelinci."

Cerpen Anak: Inci dan Ajah

Inci kemudian bercerita ingin punya teman. Sahwa menyeringai. Dia punya niatan tertentu di balik senyumnya. Dia mengajak Inci berteman. Tentu Inci senang bukan alang kepalang.

Ternyata Sahwa mengajak Inci berteman hanya untuk menyantapnya saja. Ketika dia melihat Inci lengah, langsung dia menyerang Inci dengan penuh nafsu. Dalam benak Sahwa sudah terbayang nikmat dan gurihnya daging Inci.

Beruntung Inci menyadari, sehingga berhasil meloloskan diri dari serangan Sahwa. Dia lari bersembunyi di balik sebuah batang pohon. Sahwa terus mencarinya.

Rupanya batang pohon tempat Inci bersembunyi adalah tubuh Ajah, seekor gajah yang sedang tertidur. Ajah terbangun, sehingga Sahwa melihat Inci meringkuk ketakutan. Inci berteriak minta tolong.

Sahwa tidak peduli. Dia maju untuk mendapatkan Inci. Tapi, Ajah yang mendengar teriakan Inci langsung menginjak Sahwa sampai klepek-klepek. Daripada bonyok, Sahwa memilih kabur.

Inci mengucapkan terima kasih pada Ajah yang telah menyelamatkan hidupnya. "Terima kasih telah menyelamatkanku," kata Inci, "Namaku Inci. Siapa namamu?"

"Sama-sama Inci. Namaku Ajah. Kenapa kau bisa sampai diserang Sahwa?" tanya Ajah.

"Aku tidak tahu. Tadi aku bertemu dengannya untuk mengajaknya berteman, tapi dia malah menyerangku. Aku sebatang kara soalnya. Siapapun orangnya aku mau menjadi temannya."

"Baiklah, Inci. Sekarang mari kita berteman." Inci dan Ajah pun pergi bersama-sama sebagai teman.

Terima kasih teman-teman sudah membaca ceritaku ini.

Nb. Cerpen anak ini tulisan sendiri loh :)

Keberanian Momo

Lama tidak memposting tulisan, akhirnya bisa berkesempatan lagi mempublish sebuah. Sama seperti cerita anak sebelumnya, Plunny dan Matilda, postingan kali ini juga ditulis lama sekitar tahun 2007-2008. Dan dimasukkan ke dalam satu bundel naskah yang sama. Diposting disini sajalah ^^, biar bermanfaat buat bacaan adik-adik. Tapi, kalau jelek kasih komentar ya...

Belajar Mendahulukan Kewajiban

Cerita Anak yang Akoh tulis kali ini memiliki pesan yang sangat dalam. Akoh terinspirasi dari karya Aesop yang berjudul Semut dan Belalang (source). Apa dan bagaimana cerita anak yang Akoh tulis pada postingan ini? Yuk sama-sama membaca...

Cerita anak, dongeng anak, cerita anak sd, kumpulan cerita anak, cerita anak anak, cerita dongeng anak

Pluny dan Matilda

Cerita anak ini Akoh buat sekitar tahun 2007-2008. Karena niat awalnya, ingin Akoh membukukan cerita anak ini. Tapi, karena tidak ada penerbit yang mau alias menolaknya, jadi Akoh posting saja disini. Soal isi dari cerita anak berjudul Pluny dan Matilda ini, silakan dibaca saja ya… ^^

Cerita anak, dongeng anak, cerita anak sd, enyd blyton, kumpulan cerita anak, cerita anak anak, cerita dongeng anak

Pelawak Kerajaan yang Bahagia

+Cerita Anak 

Alkisah hiduplah seorang badut kerajaan bernama Salimi, yang hidup sebatang kara tanpa sanak keluarga. Sebagai badut kerajaan, hidupnya selalu pas-pasan, hanya mampu untuk mencukupi dirinya sendiri saja. Tetapi walaupun demikian menderita dan kesepiannya keadaan, ia hidup dengan tenang dan bahagia. Tak peduli ia sedang susah hati atau sedang gembira, ia selalu menceritakan kisah-kisah yang membuat orang-orang di sekitarnya menjadi tertawa dan gembira. Oleh sebab itu tuan putri muda, Julia, senang bersama Salimi. Membuat Julia selalu menanti-nantikan kedatangan Salimi esok hari, jika Salimi telah pulang ke rumah.

Morwent Berubah Jadi Burung

+Cerita Anak

Dahulu ada seorang penyihir yang bijak, namanya Kharzama. Ia terkenal karena kebijaksanaan dan kesaktiannya mengubah benda-benda sesuai dengan kesukaannya. Misalnya mengubah manusia menjadi hewan, begitupun sebaliknya mengubah hewan menjadi manusia. Di samping itu, ia juga bisa mengubah pepohonan menjadi manusia, juga sebaliknya manusia menjadi sebatang pohon. Kharzama punya seorang murid perempuan yang bodoh, bernama Morwent. Morwent memang seorang murid yang setia pada Kharzama, tetapi ia tidak suka belajar ilmu sihir darinya. Satu-satunya yang disenangi dan dikuasainya adalah ilmu mencuri dengar perkataan orang lain. Pintar betul Morwent mengingat-ingat cerita orang, sehingga ketika ia mendengar cerita dari orang lain, ia pun akan menggosipkan kepada orang lain dengan menambah-nambahkan cerita yang didengarnya.

Bangau Si Kaki Panjang

+Cerita Anak

Jaman dahulu kala Bangau tidak mempunyai kaki yang panjang sekarang. Tetapi hanya memiliki kaki yang pendek sekali. Sehingga ketika ia berjalan, Bebek pasti menertawainya. Karena Bangau, yang suka sekali menaikkan dagunya setengah sentimeter (alias angkuh) itu, terlihat jelek sekali dengan kaki pendek. Apalagi lehernya panjang sekali, begitu sebut Bebek mengomentari fisik Bangau.

Golla, Raksasa yang Baik Hati


Hiduplah seorang raksasa di dalam sebuah goa yang gelap gulita. Raksasa itu terkenal dengan nama Golla si raksasa hijau. Dia hidup sendirian tanpa memiliki satu orang kawanpun. Untuk memenuhi kebutuhan dirinya, ia selalu mencari makanan di hutan yang dekat dengan goanya. Makanannya yang paling disukainya adalah buah-buahan cerryl.

Kecil Itu Berarti


Suatu hari di hutan digelar sebuah rapat yang dihadiri oleh tuan Gajah, tuan  Harimau, tuan Kancil, tuan Badak dan tuan Semut. Mereka berdiskusi karena hutan sedang diserang oleh pemburu-pemburu liar. Para pemburu tersebut membuat penduduk hutan ketakutan. Mereka yang mengikuti diskusi kemudian mengajukan usulan sebagai upaya mengusir para pemburu.

Si Buaya Tua

+Cerita Anak 

Pada suatu pagi seekor kijang muda yang ketinggalan rombongan kawan-kawannya berjalan sendirian di hutan. Kijang muda itu bingung karena untuk bisa bertemu dengan kawan-kawannya, ia harus menyeberang sebuah sungai. Padahal sungai yang akan diseberanginya itu ada seekor buaya tua pemakan kijang-kijang muda.

Ikan Paus yang Kesepian


Seekor Paus—yang telah hidup lebih lama dari pada penghuni laut saat ini—sedang bernyanyi. Menyanyikan lagu paling sendu yang pernah terdengar oleh para penghuni laut. Semenjak kematian pasangannya beberapa tahun silam tak ada yang kebahagiaan terpancar dari raut wajahnya. Dia hanya mengitari samudra lepas diiringi kesepiannya.

Cerita Rubah Jahat

+Cerita Anak

Zaman dahulu kala ada seekor Beruang Madu yang hidup berbahagia di hutan. Ia tinggal sendirian di dalam rumahnya yang kecil dan sangat menyukai madu. Suatu hari rumah pak Beruang Madu didatangi oleh seekor Rubah jahat.

Kecerdikan Tikus Tanah

+Cerita Anak

Dulu, Burung Elang dan Burung Hantu merupakan dua burung yang memiliki hubungan persahabatan paling erat. Keduanya selalu bersama kemana-mana pun mereka pergi. Bahkan ketika berburu pun mereka selalu bersama dan membagi sama rata hasilnya. Burung Elang sahabat Burung Hantu itu memiliki nama Geronimo, sedangkan Burung Hantu-nya memiliki nama Holcus. Keduanya merupakan nenek moyang daripada para Burung Elang dan Burung Hantu yang hidup sekarang ini.

Kisah Rusa Kecil

Pada suatu pagi yang cerah, seorang penggawa kerajaan yang setia, pergi menemani Raja berburu. Kemudian mereka menemukan sekumpulan rusa. Begitu melihat sekompok manusia yang akan memburunya, rusa-rusa itu pun lari berhamburan dan para prajurit kerajaan berusaha mengejarnya.

Kunang-kunang dan Cherryl

+Cerita Anak 

Seekor kunang-kunang terakhir terbang di malam hari. Kunang-kunang itu sedang mencari kawan-kawannya yang telah pergi ke surga. Setiap orang yang ditemuinya di jalan selalu saja ditanyainya, “apakah kau ingin menjadi temanku?” begitu pertanyaan yang selalu dilontarkan oleh kunang-kunang. Tetapi semua orang tak mau berteman dengan kunang-kunang, karena kunang-kunang dianggap jelmaan setan. Kunang-kunang menjadi sedih karena anggapan orang tentang dirinya. Tapi ia tetap tak putus asa.