Cerita Fabel Pendek - Elang dan Layang-layang

Cerita fabel pendek – Tampak seekor elang bermurung durja ketika bertengger di sebuah cabang pohon besar dengan seekor burung layang-layang yang tersangkut.

"Kenapa? Kulihat kau tampak sedih?" tanya layang-layang, melihat wajah elang.

Dengan sedih, elang menyahut, "Aku mencari pasangan yang tepat untukku. Tapi, aku belum menemukannya satu untukku."

Layang-layang terdiam sebentar. Sejurus kemudian meminta elang untuk menjadikannya sebagai pasangan. "Aku lebih kuat daripadamu!" tegas layang-layang.

Cerita Fabel Pendek - Elang dan Layang-layang

Elang terbujuk oleh ucapan layang-layang. Pernikahan pun dilangsungkan. Sesudahnya elang memerintahkan layang-layang untuk membawa burung unta yang telah dijanjikan. Layang-layang terbang tinggi ke udara dan kembali dengan membawa tikus tanah yang kotor, kumuh, dan bau.

Melihat layang-layang membawa tikus tanah, elang pun bertanya, "Apa ini? Kau tidak menjanjikanku tikus tanah! Kau menjanjikanku burung unta!"

Layang-layang menjawab, "Aku kan hanya berkata bisa membawakan ke tempatmu. Namun, aku tidak pernah berjanji bahwa aku tidak boleh gagal dalam tugasku."

Cerita fabel pendek Elang dan Layang-layang dialihbahasakan ceritanakecil.blogspot.com.

Cerita Rakyat Korea: Dua Saudara

Sebelum mulai mengisahkan cerita rakyat Korea "Dua Saudara", saya mau promosi artikel sejenis yaitu "Pengorbanan Hyangeok" dan "Anak Katak yang Nakal". Oke, langsung saja, kalian baca cerita berikut yang menggambarkan tentang persaudaraan erat di antara dua orang kakak beradik.

Cerita Rakyat Korea: Dua Saudara

Suatu hari, hiduplah dua kakak beradik yang saling menyayangi di sebuah lembah. Mereka berdua bahu-membahu untuk menjaga Ibu mereka yang sudah renta dan janda. Setelah kematian Ibu, keduanya selalu membagi rata apa yang menjadi kebutuhan mereka.

Keduanya juga bekerja dengan rajin, sejak matahari terbit hingga terbenam untuk menghasilkan sesuatu yang paling baik dari bidang yang mereka kerjakan. Karena, tidak pernah gagal, mereka berdua punya hasil panenan yang besar di lembah.

Cerita rakyat Korea - Dua Saudara.

Di suatu musim gugur, dalam satu panenan terakhir padi, sang Kakak merasa kalau Adiknya membutuhkan beras untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Maklum saja, Adik baru saja menikahi seorang gadis pujaan hatinya. Sang Kakak pun berencana untuk membawa satu karung beras untuk diberikan secara diam-diam di gudang penyimpanan beras sang Adik. Soalnya, jika diberikan langsung sang Adik pasti akan menolaknya. Jadi, malam itu dia segera membawa satu karung beras ke gudang penyimpanan Adiknya.

Keesokan harinya, ketika merapikan gudang penyimpanan berasnya sendiri, sang Kakak terkejut menemukan masih memiliki karung beras dalam jumlah yang sama. Padahal, sebelumnya satu karung beras telah diberikan untuk adiknya. "Ini aneh," pikirnya sambil menggelengkan kepala, "Aku yakin telah mengambil karung berasku dan kuberikan pada adik semalam." Lalu, sang Kakak menghitung kembali karung berasnya. Hasilnya tetap sama. Sang Kakak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia memutuskan memberikan kembali satu karung beras untuk Adiknya.

Jadi, ketika malam telah larut, dia membawa satu karung beras untuk diberikan ke rumah saudaranya.

Lagi-lagi, keesokan harinya, sang Kakak terkejut menemukan karung berasnya memiliki jumlah yang sama lagi. Sama, dia memutuskan untuk memberikan satu karung beras untuk Adiknya. Selepas makan malam, sang Kakak keluar dari rumahnya sambil mengangkut karung beras di pundaknya.

Cerita rakyat Korea - Dua Saudara.

Saat itu bulan purnama dengan jelas menerangi jalan setapak. Maka, sang Kakak bisa dengan mudah melihat sekitar. Di saat itulah, dia melihat seorang pria membawa sesuatu yang besar di punggungnya turun ke jalan. Mereka berdua kemudian berpapasan. Untuk sesaat mereka terdiam. Begitu sang Kakak menyadari bahwa di depannya adalah sang Adik, begitu pula sang Adik, keduanya tertawa dan hangat. Kini mereka berdua bisa memahami misteri di balik tidak berubahnya jumlah karung beras yang ada di gudang penyimpanan. Sang Adik mengira Kakaknya lebih membutuhkan beras karena dia memiliki keluarga yang lebih besar dibandingkan dirinya.

Jangan lewatkan cerita rakyat Korea lainnya. Resourse dan ilustrasi credit shared by park.org.

Cerita rakyat Korea - "Anak Katak yang Nakal"

Sebelum berlanjut ke cerita Rakyat Korea "Anak Katak yang Nakal", saya akan juga punya artis cerpen rakyat Korea lainnya, yaitu Pengorbanan Hyangdeok. Pesan yang bisa dipetik dari cerita berikut adalah penyesalan selalu datang terlambat.

Cerita rakyat Korea - "Anak Katak yang Nakal"

Di suatu masa, hiduplah seekor Katak Muda dan Ibunya yang sudah ditinggal meninggal suaminya di sebuah kolam besar. Katak Muda ini adalah seekor katak pembuat onar, yang sama sekali tidak pernah mendengarkan ucapan Ibunya. Sehingga, menyebabkan banyak kesedihan dan rasa malu Ibunya.

Si Katak Muda ini selalu saja melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kata-kata Ibunya. Jika Ibunya memintanya bermain di bukit, maka katak muda ini pergi ke pantai. Jika Ibunya memintanya pergi ke lingkungan atas, maka katak muda ini pergi ke bawah.

"Apa yang sebaiknya kulakukan dengan anak itu?" tanya Ibu katak pada dirinya sendiri, "Kenapa dia sama sekali berbeda dari anak-anak lainnya yang selalu menurut apa kata orang tua? Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika dia bersikap keras kepala seperti ini. Meski begitu, aku harus melakukan sesuatu supaya kebiasaan buruknya hilang." Ibu katak menghela napasnya.

Cerita rakyat Korea - "Anak Katak yang Nakal"

Sayangnya, setelah melakukan segala upaya untuk mengubah anaknya, Ibu katak tidak mendapati anaknya berubah. Katak muda tetap saja bersikap semaunya. "Hahaha..." terkekeh katak muda melihat Ibunya yang sudah putus asa dengan sikapnya, "Kau tidak usah mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja dengan sikapku ini!"

"Apakah iya?" kata Ibu katak, "Lalu kenapa suaramu tidak terdengar seperti katak? Mari kuajari..." Sambil tersenyum Ibu Katak bersuara kaegul! Kaegul! Kaegul! sebagaimana biasa dilakukan oleh katak pada umumnya. "Sekarang, cobalah bersuara sepertiku."

Si katak muda menyombongkan dirinya bahwa itu mudah saja dilakukannya. Namun ketika bersuara, yang terdengar dari dalam mulut Katak Muda adalah suara kulgae! Kulgae! Kulgae!

"Aduh, kenapa kau bersuara seperti seekor katak tidak baik? Kau akan membuat Ibumu ini mati!" pekik Ibu Katak, "Dengarkan aku jika aku sedang memberitahumu tentang hal yang baik untukmu. Sekarang kau..."

Belum Ibunya selesai berbicara, si Katak Muda melompat-lompat menjauh sambil bersuara, "Kulgae! Kulgae!"

Cerita rakyat Korea - "Anak Katak yang Nakal"

Hari demi hari, Ibu Katak terus saja memberi nasihatnya, tapi Katak Muda terus melakukan apa yang diinginkannya - kebalikan dari apa yang dikatakan Ibunya. Berpikir tentang nasib Katak Muda kelak, Ibu Katak jatuh sakit. Hal ini membuat Ibu Katak memanggil Katak Muda di sisi tempat tidurnya.

"Anakku," kata Ibu Katak, "Kurasa aku takkan hidup lebih lama lagi. Ketika aku meninggal, jangan kuburkan jasadku di gunung, tapi kuburlah aku di sisi sungai." Ibu Katak mengatakan itu karena tahu Katak Muda akan melakukan hal sebaliknya yang dikatakannya.

Beberapa hari kemudian Ibu Katak benar-benar meninggal. Hal ini menyisakan kesedihan mendalam bagi Katak Muda. "Oh, Ibuku yang malang. Aku merasa dia terlalu khawatir dengan kenakalanku. Kenapa aku tak mendengarkannya?" kata Katak Muda menyesal, "Kini, dia sudah tiada. Aku telah membunuhnya."

Katak Muda merasa Ibunya meninggal karena dirinya. "Aku selalu melakukan apa yang Ibu katakan karena merasa itu menyenangkan. Tai kali ini aku akan melakukan apa yang dia katakan." Maka, Katak Muda memakamkan Ibunya di sisi sungai, walaupun dia merasa itu tidaklah bijaksana.

Beberapa kemudian badai turun, menyebabkan air sungai meluap. Katak Muda tidak bisa tertidur karena khawatir makam Ibunya akan hanyut. Akhirnya, dia pergi ke makam Ibunya di sisi sungai untuk berjaga-jaga.

Di tengah hujan lebat, Katak Muda duduk. Dia menangis berulang-ulang dan bersuara dengan benar, "Kaegul! Kaegul! Jangan hanyutkan jasad Ibuku." Itulah yang selalu dilakukan Katak Muda setiap kali hujan turun. Sejak itu, katak hijau menangis kaegul kaegul waktu hujan turun.

Dialih-bahasakan dari "The Disobedient Frog". Baca juga cerpen Korea lainnya. Pic credit shared by park.org.

[Cerita Lucu] Jika Saja Imanmu Kuat

Cerita lucu - Beberapa tahun yang lalu aku mendengar sebuah cerita yang aku harap akan menenangkan mereka yang merasa sering diejek dengan kalimat, "Jika saja imanmu kuat kau tidak akan..."

Waktu itu aku sedang mendengarkan seorang wanita menelepon seorang pendeta dalam sebuah siaran radio. Pendeta itu adalah seorang pria bijaksana. Suaranya lembut, seakan bisa menghilangkan segala rasa takut. Wanita itu—yang jelas terdengar sedang menangis— berkata, "Pendeta, aku dilahirkan buta, dan sudah buta sepanjang hidupku. Aku tidak keberatan menjadi buta, tetapi ada beberapa teman yang mengatakan bahwa jika saja imanku kuat maka aku akan bisa disembuhkan."

Ilustrasi tongkat yang ada dalam cerita lucu banget berjudul "Jika Saja Imanmu Kuat" ini dinukil dari buku Noel, Mati Ketawa Gaya Indonesia, Yogyakarta: Media Pressindo, 2009.
Pic by heritage.indonetwork.co.id

Pendeta itu bertanya kepadanya, "Apakah Anda selalu membawa tongkat penuntun Anda ke mana pun Anda pergi?"

"Ya," jawab wanita itu.

Lalu pendeta itu mengatakan, "Jika mereka mengejekmu lagi dengan kata-kata seperti itu, pukullah mereka menggunakan tongkatmu. Lalu katakan pada mereka jika imanmu kuat, tentu kau tidak akan merasa sakit!"

Cerita lucu banget ini dinukil dari buku Noel, Mati Ketawa Gaya Indonesia, Yogyakarta: Media Pressindo, 2009.

Cerita Rakyat Korea: Pengorbanan Hyangdeok

Cerita Anak - Hyangdeok [향덕] merupakan salah satu contoh cerita rakyat yang berasal Korea. Menggambarkan sebuah pengorbanan dan bakti seorang anak kepada ibunya. Bahan demi mengenang pengorbanan yang dilakukan Hyangdeok kepada ibunya telah dibangun tugu untuk mengenang Hyangdeok.

Hyangdeok merupakan salah satu contoh cerita rakyat yang berasal Korea. Menggambarkan sebuah pengorbanan dan bakti seorang anak kepada ibunya. Bahan demi mengenang pengorbanan yang dilakukan Hyangdeok kepada ibunya telah dibangun tugu untuk Hyangdeok.
Hyangdeok merupakan salah satu contoh cerita rakyat yang berasal Korea. Menggambarkan sebuah pengorbanan dan bakti seorang anak kepada ibunya. Bahan demi mengenang pengorbanan yang dilakukan Hyangdeok kepada ibunya telah dibangun tugu untuk Hyangdeok.
Hyangdeok merupakan salah satu contoh cerita rakyat yang berasal Korea. Menggambarkan sebuah pengorbanan dan bakti seorang anak kepada ibunya. Bahan demi mengenang pengorbanan yang dilakukan Hyangdeok kepada ibunya telah dibangun tugu untuk Hyangdeok.

***

Dalam cerita rakyat Korea dikisahkan, pada tahun ke-14 semasa kekuasaan Raja Gyeongdeok, hiduplah di Kota Gongju (propinsi Chungcheong Selatan), seorang pria bernama Hyangdeok bersama ibunya. Tahun 755, terjadi bencana kelaparan lantaran kegagalan panen di Silla. Banyak orang kelaparan, termasuk dialami keluarga Hyangdeok.

Ibu Hyangdeok diketahui menderita penyakit. Hyangdeok telah mengusahakan kesembuhan ibunya dengan mendatangkan tabib. Tabib kemudian mendiagnosa bahwa ibu Hyangdeok bisa disembuhkan dengan mengonsumsi banyak protein hewani, yang berasal dari sapi, kerbau, kambing, dll.

Namun, jangankan daging sapi, makanan biasa saja sulit dijumpai di masa kelaparan itu. Hyangdeok mencari akal supaya ibunya bisa makan daging. Akhirnya, Hyangdeok pun memotong daging kakinya untuk disuguhkan pada ibunya setelah dimasak. Secara perlahan-lahan, ibu Hyangdeok bisa sembuh. Tapi, akibatnya Hyangdeok harus menjadi pincang.

Suatu hari, ketika Hyangdeok tengah memancing di sungai, seorang pejabat kerajaan lewat dan melihat kaki Hyangdeok yang pincang. Pejabat kerajaan bertanya apa yang terjadi dengan kakinya. Hyangdeok menceritakan apa yang telah terjadi.

Sang pejabat merasa haru. Dia kemudian menceritakan cerita sedih Hyangdeok pada Raja Gyeongdeok. Cerita sedih tentang pengorbanan Hyangdeok demi ibunya itu membuat hati Raja tersentuh. Tak pelak, Raja memerintahkan supaya Hyangdeok dihadiahi 300 karung beras, rumah, dan tanah garapan. Baca cerita rakyat singkat lainnya.

Nb. Foto diambil dari Daum.

Dongeng Kancil dan Siput

Kancil bertemu siput di pinggir kali. Di mana dengan sombong, kancil meledek siput, betapa lambannya, betapa tak bisa cepat siput.

"Oiya, beranikah kau adu balap lari denganku?" tantang si kancil dengan maksud meledek. Dia tahu siput pasti menolak, karena merasa tak bisa menang.

Di luar dugaan, siput menerima tantangan itu. Keduanya pun menantikan hari H. Selama itu, siput membuat sebuah strategi dengan mengumpulkan rekan-rekan sesama siput. Siput mengajak teman-temannya mempermalukan kancil. Cara sepanjang sisi sungai, siput berbaris rapi. Jika kancil memanggil, maka siput yang ada di depan kancil harus menjawabnya.

Hari H pun tiba. Banyak penghuni hutan menonton adu lari itu. Kancil dan siput sudah bersiap-siap di garis start.

"Apa kalian sudah siap?" tanya pemimpin adu lari kepada Kancil dan siput. Keduanya mengangguk. "Mulai!"

Cerita dongeng kancil dan siput
anak12bangsa.blogspot.com

Keduanya langsung lari. Kancil langsung berlari secepatnya mampu. Setelah beberapa jauh, napas kancil mulai terengah-engah. Dia akhirnya berhenti. Memanggil kancil, "Put, siput?"

"Ya, aku di sini," sahut siput, bergerak dengan lamban di depan kancil.

Kancil kembali berlari sekuat tenaga. Ketika lelah, kancil berhenti sambil memanggil siput lagi. Dia mengira pasti siput ada di belakangnya. Rupanya, dugaan kancil salah. Siput yang sudah punya strategi selalu menjawab di depan kancil.

Kancil berlari kembali. Lebih cepat, dan lebih cepat lagi. Hingga akhirnya dia menjadi lelah sendiri. Kelelahan itu membuat kancil akhirnya menyerah. Semua penghuni hutan yang menontonnya pun terkejut. Siput menyambut kemenangannya.

Cerita dongeng si kancil dan siput merupakan dongeng Indonesia yang juga sangat terkenal.

[Cerita Dongeng] Burung Hantu Tua dan Belalang

Seekor burung hantu tua keluar dari sarangnya ketika mendengar seekor belalang bernyanyi dengan sangat berisik.

"Kau tak punya sopan santun ya? Setidaknya hormatilah aku, karena usiaku. Biarkan aku tidur tenang," kata burung hantu tua kepada belalang, "Diamlah atau pergilah segera!"

[Cerita Dongeng] Burung Hantu Tua dan Belalang

Belalang mengacuhkan ucapan burung hantu tua. Soalnya, belalang merasa berhak untuk tetap di tempat sambil terus bernyanyi. Yang ada malah belalang bernyanyi lebih keras. Memekakkan telinga.

Burung hantu tua tahu tak berguna berdebat dengan belalang. Tubuh rentanya membuatnya sulit bergerak cepat. Karena itu, dia berkata baik-baik kepada belalang, "Baiklah, ketimbang berdebat lebih baik aku mengalah. Mari kunikmati nyanyianmu di sini, sekarang juga. Oiya, aku memiliki banyak makanan dan minuman di sarangku. Bila kamu sudah selesai bernyanyi kemarilah. Nikmati makanan dan minuman ini bersamaku."

[Cerita Dongeng] Burung Hantu Tua dan Belalang

Belalang itu mengikuti ucapan burung hantu tua. Sewaktu berada dalam jarak yang cukup, burung hantu tua segera menerkam belalang. Mati dimakanlah belalang bodoh.

Cerita dongeng bergambar ini diambil dari Aesop's fables berjudul "The Owl and the Grasshopper".