Cerpen Pendek – Tiga Anak dan Seikat Tongkat

Cerpen Pendek – Ada seorang pria tua yang tinggal bersama tiga orang anaknya. Ketiga putra pria tua ini pekerja keras, tapi mereka seringkali bertengkar satu sama lain hanya gara-gara sepele. Pria tua coba mendamaikan mereka, sayangnya upaya itu gagal.

Hari demi hari berlalu, pria tua itu jatuh sakit. Dia pun mengumpulkan tiga anaknya dan menasihatinya untuk bersatu. Tak seorang pun dari mereka mendengar kata-katanya. Karena itu dia memutuskan untuk memberi tiga anaknya pelajaran praktis, sehingga walaupun berbeda mereka akan tetap bersatu.

Cerpen Pendek – Tiga Anak dan Seikat Tongkat

"Aku kuberikan kalian tongkat. Patahkan tongkat itu sama bagian. Orang yang lebih cepat mematahkan tongkat akan kuberi hadiah."

Semua anak setuju.

Pria tua memberi sepuluh batang tongkat untuk masing-masing anak. Dalam beberapa menit, mereka semua berhasil mematahkan tongkat tersebut.

Mereka mulai bertengkar, merasa diri mereka yang berhasil mematahkan semua tongkat lebih dulu. Pria tua berkata, "Permainan belumlah berakhir. Sekarang akan kuberikan seikat tongkat lain. Kalian harus mematahkan tongkat dalam satu ikatan ya, bukan sebagai tongkat terpisah."

Cerpen Pendek – Tiga Anak dan Seikat Tongkat

Tiga anak itu langsung mematahkan tongkat tersebut. Beberapa menit berlalu, mereka belum berhasil mematahkannya. Upaya keras mereka akhirnya harus gagal. Mereka menemui kembali pria tua dan menceritakan kegagalan mereka.

"Lihatlah, kalian bisa dengan mudah mematahkan sebilah tongkat dengan mudah. Tapi, kau tidak sanggup memecahkan ikatan tongkat tersebut. Jadi, kuharap kalian tidak bertengkar lagi dan bersatu, sehingga takkan ada yang bisa menghancurkan kalian," ucap pria tua.

Ketiga anak itu mengerti. Mereka akan berusaha untuk tetap rukun dan bersatu.

-----------

Cerpen pendek ini ditulis oleh ceritanakecil.blogspot.com, yang masuk ke dalam kategori cerita anak, cerita dongeng.

Cerita Dongeng Binatang – Rubah Licik dan Bangau Pandai

Cerita Dongeng Binatang – Ada seekor rubah licik yang selalu ingin menipu binatang lain dengan tindakannya yang mengerikan dan bodoh. Dia selalu bicara manis pada binatang lain untuk memberikan keyakinannya.

Suatu hari, dia coba bersenang-senang bersama bangau. Dia mengundang bangau makan malam di rumahnya, mengiming-iminginya makanan lezat. Tentu saja Bangau menyambut undangan tersebut.

***

Cerita Dongeng Binatang – Rubah Licik dan Bangau Pandai

Karena teringat undangan makan malam Rubah, Bangau sengaja tidak makan siang harinya. Ketika Bangau datang ke rumahnya, Rubah menyambutnya dengan riang gembira. Namun, Rubah meminta maaf tidak bisa membuat banyak makanan karena penyakitnya, kecuali sup.

Walaupun kecewa, Bangau tetap memperlihatkan antusiasnya. Rubah mempersilakan Bangau duduk di meja, sementara dia pergi ke dapur. Tidak beberapa lama kemudian, Rubah keluar membawa dua piring sup. Bangau tertegun melihat sup di dalam piring tersebut, bertanya-tanya bagaimana dia akan meminum sup di dalam mangkuk itu jika paruhnya sangat panjang? Sementara Rubah dengan mudah menjilati sup dari piring.

"Bagaimana supnya, Bangau?" tanya Rubah.

Bangau pun berkata, "Supnya sepertinya enak, tapi tiba-tiba perutku sakit dan aku tidak bisa memakan supnya!"

Rubah pura-pura meminta maaf. Bangau kemudian pamit pulang, setelah mengucapkan terima kasih atas tawaran yang diberikannya. Bangau yang sadar telah ditipu oleh Rubah memutuskan untuk membalasnya.

Beberapa hari berikutnya, Bangau bertemu Rubah lagi. Bangau memutuskan untuk mengerjai Rubah dengan mengajaknya makan malam. Bangau berjanji akan memasak sup yang sama untuk makan malam.

***

Cerita Dongeng Binatang – Rubah Licik dan Bangau Pandai

Rubah tiba di rumah Bangau untuk makan malam. Bangau keluar dan menyajikan sup di botol berleher panjang dan sempit di bagian atasnya. Bangau dengan mudah bisa menikmati sup dengan paruhnya yang panjang, sedangkan Rubah tidak bisa.

Bangau meminta Rubah untuk menikmati supnya. Dia bahkan mengeluarkan lagi beberapa makanan lezat yang diletakkan di dalam setoples berleher panjang. Rubah akhirnya menyadari bahwa Bangau membalas perbuatannya. Dia kecewa dan pulang dengan alasan sakit perut.

---------

Cerita dongeng binantang ini ditulis oleh ceritanakecil.blogspot.com, yang masuk dalam kategori cerita dongeng, cerita fabel.

Cerita Dongeng – Loreng Kuning dan Biru Langit

Cerita Dongeng – Mama pulang ke rumah, membawa dua ekor ikan guppy. Kunamai saja mereka: si Loreng Kuning dan si Biru Langit. Ikan-ikan ini terlihat cantik dan lincah betul. Mereka berenang riang gembira ke sana ke mari, seakan-akan mereka tak mengenal lelah.

Aku menjumput makanan ikan butiran, lalu menaburkannya ke dalam akuarium buatan Papa. “Meooonggg...” terdengar suara Empus, kucing persiaku. Aku melihat Empus senang dengan ikan-ikan itu.

“Meong...” Empus mengong lagi. Dia seolah mau bilang biar aku yang mengasih makanan itu pada Loreng Kuning dan Biru Langit. Aku menggeleng pada Empus. Aku takut Empus akan memakan dua ikan guppy-ku.

Aku pun menyuruhnya pergi, tapi Empus bersikeras. Aku menghela napas dan mengalah. Kugendong Empus mendekati akuarium. Empus melihat dua ikan guppy-ku dengan tatapan melotot.

Lalu, kujauhkan Empus dari ikan-ikanku. Empus terus mengeong. Aku tahu Empus takkan menyerah menangkap ikan-ikan itu.

***

Cerita Dongeng – Loreng Kuning dan Biru Langit

Karena itu, aku dan Mama menggambar ikan di kertas dan mengikatkan ekor ikan itu dengan benang. Ujung benang lainnya kuikatkan pada pensil.

Setelah jadi, aku menggoda Empus dengan mainan ikan baruku. Empus pun selalu berusaha menangkap gambar ikan itu. Pada akhirnya Empus kelelahan dan tidak mau main lagi. Yah, aku pun main bersama teman-teman di luar rumah.

***

Sekembalinya ke rumah, aku kaget melihat akuariumku kosong. Kuning Loreng dan Biru Langit tak ada lagi di dalamnya, sementara Empus duduk di dekat akuarium. Meledaklah tangisanku.

“Mamaaa...” aku berteriak, memanggil-manggil Mama, “Empus makan ikan-ikan guppy-ku nih!”

“Nggak kok!” jawab Mama buru-buru keluar dari dapur. Di tangan terlihat wadah besar, “Tadi Mama mencuci akuarium. Ikanmu Mama pindah ke wadah ini. Nih lihat!”

Aku lega dan tersenyum. Kulihat Empus tampak cemberut. Dia seolah-olah berkata, “Siapa mau makan ikan-ikanmu?” Sudah pasti kan? Empus pasti melakukannya kalau bisa. Siapa tidak tahu kucing suka ikan?

----------

Dongeng ini karangan ceritanakecil.blogspot.com, yang masuk dalam kategori: cerita anak, cerita dongeng.

Cerpen Horor – Anak Baru di Sekolah

Cerpen Horor – Triiinggg... Triiinggg... Triiinggg... terdengar suara bel bertalu-talu, tanda kelas akan segera dimulai.

Yono dan teman-teman lainya berbaris rapi di depan kelas. Mereka masuk ke dalam kelas berurutan satu persatu sesuai nomor urut absen.

Di dalam kelas, Yono melihat Bu Guru Gendis, wali kelasnya datang bersama seorang anak perempuan.

“Perkenalkan diri kamu, Nak. Ayo nggak usah malu-malu,” pinta Bu Guru Gendis pada anak perempuan itu.

Cerpen Horor – Anak Baru di Sekolah

“Halo, namaku Teti Marleni. Aku pindahan dari SMPN 3. Itu aja kalau ada yang ingin ditanyakan nanti kita bisa berkenalan. Sekian dan terima kasih,” ucap Teti, memperkenalkan diri.

Kemudian dia duduk di sebelahku. Karena hanya itu satu-satunya bangku kosong tersisa di kelasku. Yono kemudian coba memperkenalkan dirinya pada Teti. Tapi, begitulah hari-hari Yono selanjutnya. Tak ada tegur sapa.

***

Salimi menelpon Yono, mengundangnya datang ke sekolah. Karena besok ada pertandingan futsal.

Yono pun datang ke sekolahan Salimi di SMPN 3. Dia pun bertemu dengan Salimi dan bercerita ngalor-ngidul sambil menonton futsal.

Yono pun bertanya pada Salimi tentang murid bernama Teti Marleni yang pindah ke sekolahnya beberapa hari lalu. Salimi terkejut. Karena seingatnya, Teti Marleni sudah meninggal setahun lalu dalam kecelakaan mobil.

Mendengar pernyataan Salimi, Yono terdiam. Dia bertanya-tanya jika Teti Marleni sudah meninggal, terus siapa anak baru yang ada di sekolahnya?

Cerpen horor anak berjudul “Anak Baru di Sekolah” ini ditulis ceritanakecil.blogspot.com.

Cerita Anak Pendek – Ongkir

Cerita Anak Pendek – Bunda Teti membungkus beberapa kardus bakpia patuk. Tidak lama lagi Lebaran. Seperti biasa, Bunda Teti mengirimkan penganan khas Jogja itu pada Simbah di Bekasi buat menjamu para tamu yang datang saat Lebaran.

“Yon, paketin ini buat Simbah ya,” perintah Bunda setelah memotong plester bening.

“Di tempatnya Bang Rojan?” Bang Rojan merupakan pemilik agen jasa pengantar barang. Letaknya tak jauh dari rumah Yono. Bunda mengiyakan, kemudian menulis alamat Simbah dan meminta Yono membawa dengan hati-hati.

***

Yono langsung mengeluarkan sepeda. Bunda mengikatkan kardus paketan di boncengan. Setelah selesai, Bunda memberikan duitnya pada Yono. Tiga lembar uang kertas pecahan sepuluh ribu rupiah.

***

Cerita Anak Pendek – Ongkir

Setibanya di tempat agen jasa pengantar barang, Bang Rojan membantu Yono membuka ikatan kardus paketan dan menimbangnya. Yono memberikan semua uang pemberian Bunda. “Ini resinya, ini kembaliannya,” ucap Bang Rojan mengulurkan uang kembalian, “Makasih ya, Yon.”

Yono mengayuh sepeda ke arah pulang. Di tengah jalan dia bertemu Farel, teman sepermainannya. Farel duduk di depan rumah. Mukanya murung. Sepeda merahnya teronggok begitu saja. Yono menyapa, “Hey, Rel? Bundamu belum pulang?”

Farel mengiyakan. Keringat tampak bercucuran, membasahi seragam pramukanya. Hari memang terik. Dia kehausan.

Tidak lama kemudian, tukang es cincau lewat. Membayangkannya saja membuat liur menetes. Yono menawari Farel. Jelas, Farel yang sedang kehausan mau tapi uang jajannya sudahlah habis.

“Gampang. Pake duitku aja,” tukas Yono segera memanggil tukang es capuccino cincau. Dengan cepat Abang membuatkan dua es untuk Yono dan Farel. Mereka pun menyeruputnya. Duh, segarnya.

***

Pulang ke rumah, Yono ditanyai kembaliannya oleh Bunda Teti. Yono menggeleng, mengaku tidak ada uang kembalian. Dia lalu cepat-cepat masuk ke kamar, takut ditanya-tanyai.

Bunda merasa ongkir paketannya lumayan mahal juga. Padahal, dia mau kirim paket lagi buat Bude Lia. Meski begitu, dia belum curiga apa-apa dan membungkus satu paket lagi.

Ayah lewat dan minta paketannya biar dibawa sekalian, karena mau keluar beli nasi rendang. Tidak lama Ayah datang. Dia memberikan uang kembaliannya pada Bunda. Katanya ongkirnya hanya 25 ribu.

Bunda Teti berpikir kalau Yono bilang tidak ada kembaliannya. Dia menemui Yono yang sibuk melumasi rantai sepeda di teras untuk meminta nota resi dari Bang Rojan. Yono berkelit dengan mengatakan kalau notanya hilang.

“Tapi, beneran ongkosnya 30 ribu?” tanya Bunda dengan nada penuh selidik, “Ayah tadi nanya sama Bang Rojan, katanya ongkirnya cuma dua lima. Salah kali kamunya?” Tidak bisa berkelit lagi, akhirnya Yono mengaku kalau uang kembaliannya dibelikan es cincau untuk dirinya dan Farel. Dia kasihan melihat Farel kegerahan, tapi Mamanya belum pulang.

Bunda tersenyum dan berpesan, “Bunda sih nggak marah Yon. Cuma sebaiknya kamu bilang sama Bunda, biar Bunda nggak mikir yang enggak-enggak.” Yono mengangguk-angguk mengerti dan minta maaf.

Cerita Anak Pendek – Ongkir ini ditulis kembali oleh ceritanakecil.blogspot.com dari cerpen karya Saptorini yang berjudul Ongkos Kirim.

Cerpen Anak Sekolah – Murid Bandel, Kepala Sekolah, dan Pemilik Kebon

Cerpen Anak Sekolah – Ada seorang murid di sebuah sekolah yang bandel sekali. Dia suka membolos sekolah.

Suatu hari, murid bandel ini berniat memetik buah apel dari kebun tanpa sepengetahuan empunya. Tiap musim panen tiba, pemilik kebun suka membangga-banggakan hasil panenan buah apelnya yang bagus-bagus.

Ketika musim semi tiba, pemilik kebun akan menunjukkan kuncup bunga-bunga mekar dari bakalan buah apel di pohon. Ketika musim gugur tiba, dia baru memanen apel-apel yang telah ranum.

Pemilik kebun lihat murid bandel ini secara sembrono memanjat pohon buah apelnya. Tanpa murid bandel sadari banyak buah-buah apel yang telah masak dan belum masak berjatuhan. Tidak hanya itu, dia juga mematahkan ranting-ranting pohon. Pokoknya melakukan banyak sekali kerusakan.

Cerpen Anak Sekolah – Murid Bandel, Kepala Sekolah, dan Pemilik Kebon

Tidak ingin terjadi kerusakan yang lebih parah, Pemilik kebun melaporkan tindakan murid bandel kepada kepala sekolah di mana murid bandel itu bersekolah. Segera saja kepala sekolah tiba ke kebun membawa para muridnya yang lain.

Kepala sekolah akan mengomeli sekalian menghukum murid bandel ini sebagai contoh bahwa perbuatan nakal pasti akan mendapatkan hukuman. Tapi apa yang terjadi?

Kedatangan kepala sekolah dan murid-muridnya malah memperburuk keadaan. Niatnya untuk memberi contoh berantakan. Karena, begitu murid-muridnya yang lain melihat buah apel yang ranum segera menyerbunya. Mereka memanjat pohon dan memetik buah apel, membuat lebih banyak kerusakan.

Cerpen Anak Sekolah – Murid Bandel, Kepala Sekolah, dan Pemilik Kebon ditulis ulang oleh ceritanakecil.blogspot.com dari karya penulis anak bernama Jean de La Fontaine.

Sinopsis L.U.V Collage Episode 1

Silakan baca juga [INDEKS] sinopsis drama L.U.V Collage.

Sinopsis Drama L.U.V Collage Episode 1

Sinopsis L.U.V Collage Episode 1 Sinopsis L.U.V Collage Episode 1

Sinopsis drama L.U.V Collage Episode 1 – Di dalam pesawat Ailing membaca pesan Minguk, yang mengatakan: "Ailing, selamat datang di Korea. Jadwal kita padat. Kuharap kita bisa bekerja sama dengan baik dan cepat, meski itu sulit."

Ailing menduga Minguk adalah tipe pria keras kepala yang sulit dikendalikan. Daripada bete, dia membuka-buka foto di laptopnya. Tampak foto Myungdong dan Dongdaemoon, yang ingin sekali dikunjunginya.

Seorang pramugari menawari Ailing makan. Menu yang ditawarkan adalah nasi-ikan atau bibimbab? Ailing memilih bibimbab. Sepertinya dia menyukai Korea dan budayanya.

Ailing adalah wartawan di perusahaan media cabang Cina. Dia selalu bepergian keliling dunia. Kali ini, dia ditugaskan ke Korea untuk meliput budaya Korea. Dia akan ditandemkan oleh Kim Minguk, seorang juru kamera dari perusahaaan sama cabang Korea.

Demi mengusir rasa bosan menunggu Ailing datang, Minguk melihat-lihat hasil jepretan mata kameranya. Ketika merasa jadwal landing sudah lewat, Minguk coba menghubungi Ailing. Eh, Ailing muncul di depan hidungnya.

Minguk mendekati Ailing dan menyapanya dengan menyenggol Ailing, sehingga Ailing terkejut. Setelah perkenalkan diri yang singkat dan aneh, Minguk mengajak Ailing liputan dan bicaranya sambil jalan.

Di tkp, mereka bagi tugas: Ailing mewawancarai narasumber dan model pencicip makanan, sedangkan Minguk menjadi juru kameranya.

Tidak lama, mereka mengambil istirahat. Di saat itu, Minguk menanyakan apakah tkp tempat mereka liputan bisa dimasukkan ke dalam artikel pilihan. Ailing berseloroh kalau tempat yang mereka datang memang bagus. Tapi dia tidak berpikir akan menjadikannya artikel pilihan, sebab penulis yang menulis budaya Korea tradisional sudah seabrek.

Ketika Minguk bertanya budaya Korea bagaimana yang cocok dijadikan artikel pilihan, sambil ngeloyor pergi Ailing menjawab ingin menulis budaya Korea modern.

Di dalam mobil, Ailing melihat foto-foto yang Minguk ambil. Minguk berpikir Ailing sedang memilih foto untuk artikelnya tanpa berdiskusi dengannya. Dia mencemooh kalau Ailing pasti wanita yang sulit diajak bekerja sama.

Ailing menguap, merasakan kakinya pegal karena belum istirahat setibanya di Korea. Dia melihat Myungdong, dan membatin akan segera ke sana setelah urusan pekerjaan diselesaikan. Dia kemudian meminta Minguk membawanya ke hotel yang telah dibookingnya.

Minguk tidak setuju. Dia mengajak Ailing berdiskusi, memutuskan topik apa yang mau dijadikan bahan tulisan. Ailing merajuk, menjelaskan pada Mingguk soal kakinya yang sakit. Minguk mengalah.

Sesampainya di sana, rupanya Ailing salah booking. Kamar yang dipesan diperuntukkan bulan depan, bukan malam ini. Terpaksa Ailing pindah hotel. Dia minta Minguk mengantarkannya.

Ailing coba menghubungi hotel lainnya, tapi semuanya mengatakan penuh. Minguk menawari Ailing menginap di rumahnya. Meskipun canggung, Ailing mau - tak ada pilihan lain.

Setibanya di depan rumah Minguk, Ailing bilang bahwa hal ini tak seharusnya dilakukan. Dia membatin kalau pria Korea kolot, dan bertanya-tanya apa yang ada di pikirannya Minguk?

Minguk yang tidak ngeh maksud ucapan Ailing terlihat acuh. Dia membawakan koper Ailing masuk ke dalam gerbang. Di belakang, Ailing mengekori Minguk, menyapu pandangan ke sekeliling rumah Minguk yang bergaya tradisional. Di dalam, Minguk memanggil Mamanya.

Rupanya keluarga Minguk sedang makan malam. Melihat daging panggang, Ailing memegangi perutnya yang lapar.

Mama menyapa Minguk, mengajaknya makan malam bersama. Di meja makan terdapat beberapa orang: Woori (Mamanya Minguk yang baik hati), Nara (adiknya Minguk yang sudah tiga kali menjajal ujian masuk perguruan tinggi dan bercita-cita menjadi idol), Victorr Garcia (mahasiswa bule tingkat akhir yang lebih suka Korea tapi tidak orang Korea), terakhir Papa Daehan (Papanya Minguk yang sulit mengekspresikan perasaan meski hatinya baik).

Ailing tahu sekarang Minguk tinggal bersama keluarganya. Dia kemudian menggeleng ketika ditanyai apa ada yang salah oleh Minguk, yang penasaran apa yang Ailing pikirkan tentang dirinya?

Minguk memperkenalkan Ailing pada orang rumah, bahwa Ailing adalah rekan sekerjanya yang berencana tinggal di Korea selama beberapa minggu. Victor memotong ucapan Minguk, langsung menggandeng Ailing ke meja makan. Habis Minguk ngomong mulu sih, xixixi. Papa meminta Minguk turut serta makan bersama.

Papa membungkus samgyupsal (daging panggang plus nasi dibalut sayur atau selada) dan menyuapi Ailing. Sesaat Ailing menatap Minguk, seolah minta persetujuan. Ketika Minguk mengangguk, Ailing menerima suapan tersebut. Tampak dia sangat menikmati waktu mengunyah makanannya.

Mama lantas bertanya apakah Victor menikmati makanan buatannya? Tentu saja Victor mengiyakan. Bahkan, dia menggoda Mama dengan mengatakan tak seorang pun yang mampu mengerti soal makanan dibandingkan Mamanya Minguk. Besar deh kepala Mama. Mereka tertawa-tawa.

Selesai makan, Mama menyuruh mereka semua untuk segera tidur. Karena sudah mengantuk, dia masuk lebih dulu ke kamar. Papa mengekor beberapa saat kemudian.

Tapi tentu saja mereka tidak mendengar perintah Mama. Victor mengeluarkan makguli untuk babak berikutnya. Ailing mendapat tuangan pertama. Biarpun baru kali pertama merasakannya, Ailing suka makguli dan memuji rasanya yang endes. Minguk terlihat tak senang dengan babak kedua makguli ini.

Nara membela. Untuk urusan kenikmatan minum seperti tak ada waktu untuk hari besok. Ailing sepakat dengan Nara. Sayangnya, Minguk bertindak seperti satpam kompleks. Dia menyuruh semua tidur karena harus bekerja keesokan harinya. Mendadak dia menyesal telah membawa Ailing ke rumahnya. Hahaha, penyesalan selalu datang terlambat kawan!

Di kamarnya, Ailing mendengus, setelah Minguk mengingatkannya untuk merapat besok jam 9 tepat.

Besoknya, Minguk memanggil Ailing, mengajaknya rapat. Karena tidak ingin ribut-ribut, dia memutuskan memanggil pakai HP. Ailing yang masih sebal tak mengangkatnya. Peduli setan, Minguk terus saja menelponnya seperti renternir mau menagih utang.

Pada akhirnya, Ailing keluar kamar di mana Minguk sudah menunggu di depan pintu. Bukan, bukan karena Ailing sudah siap merapat. Ailing keluar untuk mencak-mencak. Minguk kaget dibuatnya. Mereka pun bicara dalam bahasa Ibu masing-masing.

Minguk mengatakan dalam bahasa Korea, “Kau salah informasi. Aku nggak ngomong mau rapat kok.”

Ailing yang tidak mengerti bahasa Minguk itu mengatakan dalam bahasa Cina, “Kenapa kau memutuskan semuanya sewenak wudelmu? Sementara aku harus mengikuti keputusan itu? Moron!”

Setelah nge-nyap-nyap Minguk, Ailing mau masuk lagi ke dalam kamar, eh kakinya slip. Terpelesetlah dia. Beruntung Minguk sigap, menangkap Ailing tepat waktu. Wkwkwk

Bersambung ke sinopsis L.U.V Collage episode 2.